Pengertian Istima’
Istima’ secara bahasa berasal dari bahasa arab yang berarti mendengakan atau menyimak. Istima’ secara istilah adalah Sarana yang pertama yang digunakan manusia untuk berhubungan dengan sesama manusia dalam tahapan-tahapan tetentu, melalui menyimak kita mengenal mufrodat, bentuk-bentuk jumlah dan tarakib.
Menyimak menggunakan indra pendengaran, namun bukan berarti saat mendengar seseorang sudah dikatakan sedang menyimak. Sesungguhnya proses menyimak tidak sekadar mendengar, tetapi lebih dari itu, yaitu mendengar dengan memusatkan perhatian kepada objek yang disimak. Proses menyimak merupakan kegiatan mendengarkan yang disengaja dalam rangka mencapai maksud-maksud tertentu. Maksud-maksud tersebut misalnya, untuk tujuan belajar, mengapresiasi sebuah karya, mendapatkan informasi khusus, memecahkan masalah, atau untuk memahami aspekaspek sebuah bahasa.
Model Pembelajaran Istima’
Prinsip penganjaran bahasa harus dimulai dengan mengajarkan aspek-aspek pendengaran dan pengucapan dalam pembaca dan penulis. Strategi pembelajaran ketrampilan menyimak berkembang terutama dalam pengajaran bahasa asing. Munculnya teknologi perekaman seperti kaset, compact disk (CD), video dan lain-lain, bertujuan meningkatkan kemajuan dalam proses pembelajaran terutama dalam memberikan materi bahan ajar menyimak.
Menyimak atau mendengar merupakan satu pengalaman belajar yang amat penting bagi para siswa yang seyogyanya mendapat perhatian sungguh-sungguh dari pengajar bahasa. Ketermpilan menyimak atau mendengar dapat dicapai dengan latihan terus menerus dalam mendengarkan perbedaan-perbedaan bunyi bahasa (fonem) sesuai dengan makhorijul huruf.
Secara umum tujuan latihan menyimak adalah agar siswa dapat memahami ujaran dalam bahasa arab, baik dalam bahasa sehari-hari maupun bahasa yang digunakan dalam kegiatan resmi.
Unsur yang sangat fundamental dalam interaksi sesama manusia adalah ketrampilan untuk memahami apa yang dikatakan atau diucapkan oleh orang lain. Dalam kehidupan berbahasa sehari-hari sering kita jumpai pendengar yang kurang terampil, baik dalam bahasa ibu atau bahasa kedua.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa ketrampilan menyimak tidak perlu dilatih secara khusus, karena hal itu akan terbiasa sendirinya sebagaimana halnya belajar berjalan dan berbicara pada waktu masih balita. Macam-macam menyimak terdapat dua bagian pertama menyimak untuk keperluan pengulangan (drill), kedua menyimak untuk keperluan memahami teks.
Dalam pembelajaran menyimak terdapat berbagai macam model strategiyang dapat digunakan oleh seorang guru, yaitu:
a. Model saling kerjasama, strategi ini berguna untuk mengetahui cara yang efektif dan berdaya hasil bagi pemahaman peserta didik secara khusus, strategi ini dapat memberi kesempatan kepada perserta didik untuk saling berbagi hasil belajar dari materi yang sama dengan cara berbeda, dengan membandingkan catatan hasil belajar.
Langkah-langkahnya:
1. Peserta dibagi menjadi dua kelompok dalam dua tempat yang berbeda.
2. Guru membacakan dan menjelaskan teks yang diajakan dengan cara yang berbeda. Pada kelompok pertama guru menjelaskan sesuai dengan isi teks, sedangkan pada kelompok kedua guru menjelaskan dengan menggunakan bahasa sendiri yaitu dengan metode ceramah.
3. Setelah selesai guru meminta pada peserta didik untuk berkumpul dan masing-masing peserta didik di perintah berpasangan dengan kelompok yang berbeda.
4. Masing-masing pasangan diminta untuk menggabungkan hasil belajar dan mampu menjawab pertanyaan yang diajukan seputar isi teks.
b. Menyimpulkan, strategi ini dapat menguji kemampuan menyimak peserta didik terhadap isi cerita. Jawaban peserta didik terhadap pertanyaan seperti:
من فعل، لماذا، كيف، اين، متى، لمن، ماذا فعل
Yang kemudian disintetiskan kedalam satu kalimat singkat, padat dan jelas sehingga dapat menumbuhkan proses berfikir kreatif, kritis terhadap topik yang diberikan.
Langkah-langkah adalah sebagai berikut :
1. Memilih satu topik pembelajaran yang belum pernah di pelajari.
2. Guru menjelaskan aturan main yang harus dikerjakan peserta didik. Dimana peserta didik diminta mencatat hal-hal yang berkaitan dengan jawaban beberapa pertanyaan berikut :
من فعل، لماذا، كيف، اين، متى، لمن، ماذا فعل
3. Kemudian guru menjelaskan satu topik bahasan dan peserta didik menyimaknya.
4. Pada saat menyimak, peserta didik diminta untuk menjawab pertanyaan yang telah dicatat dan menggabungkan jawaban dari pertanyaan tersebut dalam satu kalimat.
5. Kemudian guru menyediakan waktu yang cukup bagi peserta didik untuk menganalisis dan merangkum pertanyaan tersebut menjadi satu kalimat ringkasan.
6. Mengembalikan hasil evaluasi siswa, sambil terus memberi motivasi bagi yang belum benar jawabannya.
c. Saling bergantian, strategi ini dapat mengiringi siswa untuk tetap konsentrasi dan terfokus pada materi yang sedang disampaikan.
Langkah-langkahnya :
1. Peserta didik dibagi menjadi tiga kelompok, setiap kelompok memiliki tugas yang berbeda yaitu, sebagai penanya, penentang, dan pendukung.
2. Guru menyampaikan satu topik yang kontroversial.
3. Pada saat mendengarkan teks, masing-masing kelompok melaksanakan tugasnya, yaitu tugas penanya bertugas membuat pertanyaan yang berkaitan dengan teks yang dibicarakan oleh guru, sedangkan kelomok penentang mencoba membuat suatu argumentasi yang menafikan diskurkus yang dibahas, dan para pendukung melakukan sebaliknya yaitu menyusun argumentasi yang menguatkan diskurkus yang sedang dibahas.
4. Memberi waktu yang cukup pada peserta didik untuk bekerja tiga kelompok yang saling berhadapan.
5. Mintalah masing-masing peserta didik menyampaikan hasil dari tugas mereka, sambil terus mengevaluasi dan mengarahkan tema pembahasan.
d. Menyimak dengan lagu, strategi ini membantu siswa untuk selalu tanggap dengan cermat, dan tepat dalam memahami serta memaknai syair yang dinyanyikan.
Langkah-langkahnya :
1. Tahap persiapan, menyediakan kaset lagu berbahasa arab fusha, tape recorder dan kisi-kisi yang berupa syair lagu yang tidak lengkap.
2. Tahap pelaksanaan, membagikan kisi-kisi berupa syair lagu. Diputar dan siswa diminta melengkapi kisi-kisi berupa syair lagu yang tidak lengkap.
3. Tahap pemantapan, memutar lagu sekali lagi, namun kali ini tiap bait atau baris bergantung kemampuan menyimak peserta didik. Setiap selesai satu baris lagu dinyanyikan, tape recorder dimatikan. Kemudian setiap siswa ditanya isi dari kisi-kisi yang kosong dimaksud, kemudian melakukan evaluasibersama dengan peserta didik.
4. Membahas tema dan isi lagu, sambil juga membenarkan cara penulisan siswa.
e. Model informasi, strategi ini berfokus untuk tetap utuh meskipun dalam rentang waktu yang cukup lama. Peserta didik dapat menyimak dengan seksama sebuah informasi sambil mendalami keruntutan bahasanya dan isi yang terkandung didalamnya.
Langkah-langkahnya :
1. Menyiapkan tape recorder yang berisi berita, pidato atau informasi lainnya yang berbahasa arab fusha.
2. Memutarkan kaset yang berisi berita dengan cermat dan meminta peserta didik untuk mendengarkannya dan mencatat poin-poin yang ada dalam berita tersebut.
3. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok dan tiap kelompok memperoleh tugas menulis isi berita dan mendiskusikannya.
4. Peserta didik siminta untuk mempresentasikan hasilnya.
5. Kaset diputar kembali dan melakukan evaluasi bersama-sama.
6. Kemudian membahas tema dan isi kaset, sambil juga membenarkan cara penulisan yang telah dilakukan oleh peserta didik.
f. Model problematika, strategi ini digunakan untuk meningkatkan rasa empati peserta didik pada sesama. Siswa menyimak problem yang sedang terjadi dengan seksama, dapat memahami keluh kesah yang ada, kemudian memberi solusi.
Langkah-langkahnya :
1. Peserta didik diminta untuk berpasangan.
2. Peserta didik diminta untuk menyampaikan problem atau keluh kesah yang dihadapi kepada pasangannya masing-masing.
3. Secara bergantian mereka diminta untuk menyimak solusi dari pasangannya.
4. Hasil penulisan ditukar dengan peserta didik yang lain melalui sistem cross check.
5. Peserta didik diminta untuk mempresentasikan hasilnya.
Tahapan-tahapan Latihan Istima’
Adapun tahapnan-tahapan yang dapat dilakukan dalam latihan istima’ adalah sebagai berikut:
1. Latihan pengenalan (identifikasi)
Kemahiran menyimak (istima’) pada tahap pertama bertujuan agar siswa dapat mengidentifikasi bunyi-bunyi bahasa Arab secara tepat. Latihan pengenalan ini sangat penting karena sistem tata bunyi bahasa Arab banyak berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang dikenal oleh siswa. Satu keuntungan bagi guru bahasa Arab bahwa umumnya anak-anak Indonesia khususnya yang muslim telah mengenal bunyi-bunyi bahasa Arab sejak masa kanak-kanak, dengan adanya pelajaran membaca Al-Quran dan shalat. Namun ini tidak mengurangi pentingnya latihan tersebut, karena ternyata pengenalan mereka itu belum tuntas.
Ada bunyi bahasa Arab yang sama dengan bunyi bahasa pelajar, ada yang mirip dan ada yang sama sekali tidak dikenal (asing). Berdasarkan kenyataan ini, guru harus memberikan perhatian khusus kepada bunyi-bunyi yang mirip dan yang asing sama sekali bagi pelajar.
Penyajian pelajaran menyimak bisa langsung oleh guru secara Usan, akan tetapi lebih baik kalau guru bisa memakai pita ekaman dengan tape recorder atau di laboratorium bahasa. Rekaman ini penting karena siswa akan mendengarkan model-model ucapan yang benar-benar akurat, langsung dari penutur asli bahasa Arab. Dengan pemakaian pita rekaman ini, guru akan terhindar dari kelelahan dan juga dari kemungkinan kesalahan atau kekurangtepatan dalam ucapan, hal mana kalau sampai terjadi akan mengakibatkan kesalahan ‘turun menurun'.
Latihan mengenal (identifikasi) ini bisa berupa latihan dengar untuk membedakan (discrimination exercises) pengan teknik mengontraskan pasangan-pasangan ucapan yang hampir sama. Misalnya: Guru mengucapkan atau memutarkan rekaman, pelajar diminta menebak, apakah yang didengarnya itu bunyi A atau B
Contoh
A : أليم
B : عليم
2. Latihan mendengarkan dan menirukan
Walaupun latihan-latihan menyimak bertujuan melatil pendengaran, tapi dalam praktek selalu diikuti dengan latihan pengucapan dan pemahaman, bahkan yang disebut terakhir inilah yang manjadi tujuan akhir dari latihan menyimak. Jadi setelah siswa mengenal bunyi-bunyi bahasa Arab melalui ujaran-ujaran yang didengarnya, ia kemudian dilatih untuk mengucapkan dan mamahami makna yang dikandung oleh ujaran tersebut. Dengan demikian pelajaran istima’ sekaligus melatih kemampuan reseptif dan produktif.
Dalam tahap permulaan, siswa dilatih untuk mendengarkan dan menirukan. Kegiatan ini dilakukan oleh guru, ketika memperkenajkan kata-kata atau pola kalimat yang baru, atau dalam waktu yang sengaja dikhususkan untuk latihan menyimak. Latihan menirukan ini difokuskan pada bunyi-bunyi bahasa yang asing bagi siswa, juga pada pengucapan vokal panjang dan pendek, bertasydid dan tidak bertasydid, yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia.
Beberapa contoh:
Latihan pengucapan bunyi ( ق )
Guru mengucapkan murid menirukan
قلم قلم
قمر قمر
3. Latihan mendengarkan dan memahami
Tahap selanjutnya, setelah siswa mengenal bunyi-bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya, latihan menyimak bertujuan agar siswa mampu memahami bentuk dan makna dari apa yang didengarnya itu. Latihan mendengar untuk pemahaman ini dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik, antara lain:
(a) latihan melihat dan mendengar (انظر واسمع)
Guru memperdengarkan materi yang sudah direkam, dan pada waktu yang sama memperlihatkan rangkaian gambar yang mencerminkan arti dan isi materi yang didengar oleh siswa tadi. Gambar-gambar tersebut bisa berupa film-strip, slide, gambar dinding dan sebagainya.
(b) Latihan membaca dan mendengar (اقرأ واسمع)
Guru memperdengarkan materi bacaan yang sudah direkam dan siswa membaca teks (dalam hati) mengikuti materi yang diperdengarkan. Pada tingkat permulaan, perbendaharaan kata-kata yang dimiliki siswa masih terbatas. Oleh karena itu, harus dipilihkan bahan yang pendek-pendek, mungkin berupa percakapan sehari-hari atau ungkapan-ungkapan sederhana yang tidak terlalu kompleks.
(c) Latihan mendengarkan dan memeragakan ( اقرأ ومثّل)
Dalam latihan ini, siswa diminta melakukan gerakan atau tindakan non verbal sebagai jawaban terhadap stimulus yang diperdengarkan oleh guru. Kegiatan ini tidak terbatas pada ungkapan sehari-hari digunakan oleh guru dalam kelas seperti:
اقرأ – أقفل الكتاب – اجلس – اكتبوا – امسح السبورة – افتح الشباك
Ketiga jenis latihan yang bam saja disebutkan, adalah latihan permulaan bagi jenis latihan berikutnya, yakni latihan pemahaman ( فهم المسموع ) yang lebih luas.
(d) Latihan mendengarkan dan mamahami
Pada akhirnya, mendengarkan sesuatu adalah untuk memperoleh informasi. Infofmasi itu mungkin tersurat/ekplisit, dinyatakan seeafa jelas. Tetapi mungfcin juga tersirat/implisit, yang memerlukan pengamatan dan penilaian lebih jauh.
Untuk mendapatkan informasi yang akurat, dalam arti tepat dan bermanfaat, seorang penyimak harus pandai-pandai memilih dan mengingat hiana yang penting dan mengabaikan apa yang tidak penting, kemudian mengambil kesimpulan.
Ini berarti bahwa menyimak adalah ketrampilan yang dapat dicapai hanya dehgan latihan-latihan. Tujuan latihan menyimak pada tahap ini ialah agar siswa memiliki ketrampilan memahami isi suatu teks lisan dan mampu secara kritis menangkap isi yang dikandungnya, baik yang tersurat maupun yang tersirat.
Pada tahap ini, kepada siswa diperdengarkan teks lisan (dibacakan langsung oleh guru atau melalui pita rekaman).
Mereka diminta menyimak, memahami dan kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk menguji pemahaman mereka.
Kesimpulan
Proses menyimak merupakan kegiatan mendengarkan yang disengaja dalam rangka mencapai maksud-maksud tertentu. Maksud-maksud tersebut misalnya, untuk tujuan belajar, mengapresiasi sebuah karya, mendapatkan informasi khusus, memecahkan masalah, atau untuk memahami aspek-aspek sebuah bahasa.
· Dalam model pembelajaran banyak hal yang bisa dilakukan, seperti guru dapat mengintruksikan kepada para siswa untuk membentuk beberapa kelompok agar para siswa dapat berdiskusi dan menyampaikan hasilnya dari masing-masing kelompok.
· Ada tiga tahapan dalam belajar istima’ yaitu tahap perkenalan, tahap mendengarkan dan meniru, yang terakhir tahap mendengarkan dan meniru.
Daftar pusaka
Effendy, Ahmad Fuad. 2005. Metode Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat
Gulo, W. 2002. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: Grasindo
Mustofa, Syaiful. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif. Hal:123-125
Effendy, Ahmad Fuad. Metode Pengajaran Bahasa Arab. Hal: 129-134

0 Komentar